SEJARAH MUSIK KOREA

SEJARAH MUSIK KOREA

 

Musik awal rakyat Korea diketahui dimainkan sebagai bagian dari upacara dan penyembahan kepada dewa-dewa. Umumnya, bukti-bukti tersebut berasal dari sumber-sumber tertulis Cina kuno.

Karena Semenanjung Korea menjorok dari benua Asia bagian timur laut, rakyat Korea telah melakukan pertukaran yang aktif sejak lama dengan bangsa CinaMongolJepangSiberiadan Asia Tengah yang ikut memengaruhi kesenian mereka.

Tiga Kerajaan (57 SM-668 M)

Rakyat Korea dikenal pandai menyanyi dan menari sejak zaman kuno.[2] Catatan pertama yang merekam tentang kegemaran rakyat Korea bermusik adalah kitab sejarah Cina abad ke-3, San Guo Zhi. Bangsa Cina kuno menyebut nenek moyang orang Korea dalam artikel tulisan yang berjudul “Barbarian dari Timur” atau Dong-yiDalam catatan tersebut tertulis:

Dinasti Goryeo (935-1392)

Pada masa Dinasti Goryeo, musik Cina (dang-ak) dan musik upacara (Aak) berkembang pesat bersamaan dengan musik asli (hyang-ak).[4] Musik ritual ditampilkan dalam upacara keagamaan Konfusius bersama tari-tarian.[4] Berbagai jenis alat musik baru diciptakan atau diperkenalkan dari Cina.[4] Jenis alat musik yang populer adalah gayageumgeomungo danjanggo.[4]

Dinasti Joseon (1392-1910)

Musik pada masa Dinasti Joseon dibagi menjadi 2 jenis, yakni musik istana (jeong-ak) dan musik rakyat (minsok-ak).[3] Rakyat kelas atas dan istana mendengarkan musik istana, yang terdiri dari musik Cina (dang-ak), musik asli Korea (hyang-ak) dan musik ritual Konfusianisme(a-ak).[3]

Periode terpenting bagi bidang musik di masa Dinasti Joseon adalah masa pemerintahan Raja Sejong yang Agung (1418-1450).[6] Kontribusi Raja Sejong terhadap perkembangan musik Korea dianggap monumental seperti prestasinya dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan.[6] Ia mengembangkan sebuah pipa bambu yang dinamakan yulgwan untuk menandai pola titinada musik Korea, mendesain ulang alat musik, menciptakan musik baru dan menciptakan jeongganbo, sistem notasi musik pertama di Asia Timur.[6]

Pada akhir periode Dinasti Joseon, popularitas musik istana semakin menurun, sementara itu musik rakyat dan drama tradisional sepertipansori dan changgeuk, berkembang pesat.[3][4] Musik rakyat mulai diwariskan dari generasi ke generasi.[4] Seni suara yang didasarkan dari lirik penyair terkenal seperti Kim Cheon-taek dan Kim Su-jang mulai populer di antara kaum bangsawan terpelajar.[4]

Musik religius seperti musik agama Buddha dan Shamanisme juga semakin memengaruhi genre musik rakyat Korea pada masa ini.[4] Musik agama Buddha mengalami kebangkitan, antara lain dengan populernya permainan nomor musik yeongsan hoesang, musik religius yang terinspirasi dari peristiwa khotbah Buddha di gunung Gridhrakuta di India.[3] Bentuk syair yang berasal dari zaman Dinasti Goryeosijo, semakin digemari.[4] Sijo adalah syair pendek yang dilantunkan bersama permainan alat musik.[4]

 Korea Utara dan Korea Selatan

Karena Korea telah terbagi lebih dari setengah abad, musik tradisional yang diwariskan antara kedua negara telah menjadi cukup berbeda.[1]Musisi Korea Selatan meyakini musik harus melampaui batas politik dan mencapai kemurnian yang tidak menyampaikan pesan propaganda.[1] Musisi Korea Utara pun berpendapat bahwa musik harus melampaui politik namun untuk tujuan yang berbeda.[1] Walaupun memiliki pandangan yang hampir sama mengenai musik, tujuan dan metode yang mereka kembangkan tidak sama.[1]

Di Korea Utara, tidak ada istilah guk-ak (musik tradisional) dan jeon-tong eum-ak juga tak pernah digunakan.[1] Jenis-jenis musik tradisional yang dikenal di Korea Selatan seperti jeong-ak (musik istana), pansori (opera tradisional), musik rakyat dan sanjo (permainan musik solo) tidak dikenal di Korea Utara.[1] Jenis musik tradisional yang dipentaskan di Korea Utara hanya minyo atau nyanyian rakyat.[1] Namun, minyo di Korea Utara tidak dinyanyikan dengan gaya tradisional, melainkan dengan gaya modifikasi yang diiringi aransemen permainan alat musik tradisional yang direvisi dan musik barat.[1]

Semua alat musik tradisional kecuali alat musik perkusi telah mengalami rekonstruksi.[1] Kim Il-sung dalam “Karya-karya pilihan Kim Il-sung, Volume 4, Halaman 154″ menuliskan[1]:

Pernyataan Kim Il-sung ini merupakan awal dari modifikasi alat musik di Korea Utara.[1] Semua alat musik disesuaikan dengan skala musik barat, dan skala 7 not dimodifikasi agar mudah untuk dimainkan.[1] Orang Korea Utara menganggap suara “kasar” alat musik tradisional sebagai suara yang “kotor”, sehingga mereka membersihkannya dan membuatnya jelas.[1] Mereka juga memperluas jangkauan alat musik tradisional, sehingga satu jenis alat musik dapat memainkan jenis musik yang berbeda-beda.

 

 

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_Korea#Korea_Utara_dan_Korea_Selatan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s